• Sabtu, 18 April 2026

Macron Perkuat Arsenal Nuklir Prancis Saat Dunia Hadapi Ancaman Keamanan Multikrisis Internasional

Photo Author
Tim 24 Jam News, Mining 24 Jam
- Kamis, 5 Maret 2026 | 13:41 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan strategi penguatan nuklir nasional sebagai respons meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ancaman keamanan Eropa modern. (Facebook.com @Emmanuel Macron)
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan strategi penguatan nuklir nasional sebagai respons meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ancaman keamanan Eropa modern. (Facebook.com @Emmanuel Macron)

Baca Juga: Krisis Energi Global Mengintai, Indonesia Hitung Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Stabilitas BBM

Program modernisasi ini melanjutkan kebijakan peningkatan teknologi militer yang telah berlangsung sejak awal dekade 2020-an ketika ketegangan Rusia-Ukraina mulai meningkat.

Eskalasi Timur Tengah dan Ancaman Nuklir Iran Jadi Pertimbangan

Penguatan nuklir Prancis berlangsung bersamaan meningkatnya ketegangan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran stabilitas regional serta keamanan energi Eropa.

Macron menyatakan akuisisi senjata nuklir oleh Iran berpotensi mengancam keamanan kawasan Teluk, Yordania, dan kepentingan strategis Eropa secara langsung.

Baca Juga: Penghormatan Terakhir untuk Try Sutrisno Dipimpin Presiden Prabowo dalam Upacara Kenegaraan Khidmat

Ia menambahkan bahwa Prancis siap membela sekutu regional jika muncul ancaman serius terhadap stabilitas internasional maupun jalur perdagangan global.

Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap diplomatik Prancis sebelumnya dalam berbagai forum internasional yang menekankan pencegahan proliferasi nuklir.

Tawaran Payung Nuklir Eropa Kurangi Ketergantungan Pada Amerika Serikat

Prancis juga menawarkan konsep deterensi lanjutan atau payung nuklir bagi negara-negara Eropa yang ingin memperkuat keamanan kolektif regional.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melejit fi Atas Asumsi APBN 2026, Indonesia Waspadai Risiko Subsidi Energi

Komando operasional tetap berada di Paris, namun kerja sama ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan Eropa terhadap perlindungan nuklir Amerika Serikat.

Gagasan tersebut muncul di tengah meningkatnya perdebatan mengenai otonomi strategis Eropa yang sebelumnya didorong Uni Eropa sejak krisis Ukraina.

Dengan kebijakan baru ini, Prancis menegaskan dirinya sebagai kekuatan militer utama Eropa sekaligus aktor sentral dalam arsitektur keamanan global yang sedang berubah cepat.****

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X