tambang

Diskusi Publik Kupas Relasi Negara dan Oligarki dalam Operasi Tambang Nikel Pulau Obi Halmahera

Sabtu, 28 Februari 2026 | 10:29 WIB
Ilustrasi tambang nikel. Forum diskusi publik menghadirkan akademisi, jurnalis, dan aktivis lingkungan membedah dinamika hilirisasi nikel serta tata kelola pertambangan nasional. (Dok. Kreasi DOLA AI)

MINING 24 JAM - Apakah pertumbuhan industri nikel benar-benar menciptakan masa depan pekerjaan yang lebih baik bagi masyarakat lokal?

Ataukah transformasi ekonomi tambang justru meninggalkan ketidakpastian sosial bagi generasi pekerja baru di wilayah industri mineral Indonesia?

Transformasi Ekonomi Nikel Indonesia di Tengah Gelombang Industrialisasi Global

Diskusi publik dan bedah tesis mahasiswa Pascasarjana Universitas Nasional digelar di Jakarta Pusat, Kamis (26/02/2026), menyoroti dampak sosial ekspansi industri nikel nasional.

Baca Juga: Reformasi Pasar Didorong untuk Pulihkan Kepercayaan Investor Pasca Penilaian Lembaga Rating

Acara yang diinisiasi oleh media online Strategi.id dan Konteks.co.id itu mengangkat studi kasus operasi pertambangan korporasi Harita Group di Pulau Obi sebagai refleksi kebijakan hilirisasi.

Penulis tesis M. Iqbal Tarafannur menyatakan risetnya berangkat dari pengalaman personal sebagai putra daerah Halmahera Selatan yang menyaksikan perubahan sosial berlangsung cepat.

Menurutnya, industrialisasi nikel menghadirkan peluang ekonomi sekaligus risiko ketimpangan apabila transformasi tenaga kerja tidak dikelola secara berkelanjutan.

Baca Juga: AS Ambil Alih Presidensi DK PBB, Melania Trump Dijadwalkan Memimpin Sidang Bersejarah Dunia

Diskusi menghadirkan perspektif akademisi, aktivis lingkungan, serta koalisi masyarakat sipil untuk membahas masa depan pekerja sektor tambang.

Transisi Agraria Paksa dan Pergeseran Identitas Pekerja Lokal Tambang

Iqbal menemukan perubahan signifikan ketika masyarakat petani dan nelayan beralih menjadi pekerja industri setelah masuknya proyek pertambangan skala besar.

Ia menyebut banyak warga kehilangan akses lahan produktif sehingga tidak memiliki pilihan selain bekerja sebagai buruh di kawasan industri tambang.

Baca Juga: Dugaan Pelanggaran Kompensasi PT BSI Menguat, Satgas PKH Diminta Telusuri Legalitas Tambang Emas

Kondisi tersebut menimbulkan tantangan baru karena sebagian pekerja tidak memiliki keterampilan industri, sementara tekanan ekonomi memaksa mereka tetap bekerja.

Fenomena ini menggambarkan perubahan identitas sosial masyarakat dari ekonomi berbasis komunitas menuju ekonomi industri berbasis upah.

Halaman:

Tags

Terkini