MINIGN 24JAM - Mengapa banjir terus berulang di Sumatera meski anggaran penanggulangan bencana meningkat setiap tahun?
Apakah akar persoalannya berada pada cuaca ekstrem, atau pada struktur penguasaan tanah yang menyimpang dari amanat konstitusi?
Banjir besar yang melanda Sumatera kembali membuka perdebatan tentang keadilan agraria dan keberlanjutan lingkungan.
Baca Juga: Kasus Gus Yazid: Aliran Dana Rp20 Miliar dan Korupsi BUMD Cilacap Rp237 Miliar Disidik Kejati
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J Rachbini, menilai krisis ini mencerminkan kegagalan struktural pengelolaan tanah dan ruang.
Bencana Alam Atau Akumulasi Kebijakan Keliru
Menurut Prof. Didik, banjir berulang menunjukkan adanya persoalan serius di wilayah hulu, tengah, dan hilir daerah aliran sungai.
Deforestasi, konsesi hutan tanaman industri, dan perkebunan skala besar mempersempit ruang resapan air secara sistemik.
Baca Juga: Bapanas Pastikan Telur Ayam Ras Aman, Stok Akhir 2025 Naik Alami Kenaikan hingga 154 Persen
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat Sumatera termasuk wilayah dengan kejadian banjir tertinggi nasional.
Kerugian ekonomi akibat banjir diperkirakan mencapai triliunan rupiah setiap tahun.
Penguasaan Tanah dan Konflik Agraria
Prof. Didik menyoroti ketimpangan penguasaan tanah yang semakin menjauh dari prinsip keadilan sosial.
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Bea Keluar Batu Bara per 2026, Penerimaan Negara Ditargetkan Naik Rp20 Triliun
Petani gurem dan masyarakat adat sering kehilangan akses lahan, sementara konsesi besar terus meluas.
“Krisis agraria ini sudah menyimpang dari konstitusi dan harus dikoreksi,” ujar Prof. Didik J Rachbini.
Artikel Terkait
Viral Bukaan Lahan Gunung Slamet, ESDM Pastikan Nol Aktivitas Tambang dan Ungkap Fakta Terbaru
Transaksi Kripto Melejit, Otoritas Jasa Keuangan Rilis Daftar 30 Pedagang Berizi
Anak Usaha BUMA Perpanjang Kontrak Tambang Batu Bara Rp8,22 Triliun Hingga 2030 di Australia
10.000 Hektare Hutan Hilang, Aliran Modal Global Perbankan Tiongkok Disorot di Sumatera Utara
Hoaks Sawit Presiden Mencuat, Hashim Tegaskan Prabowo Subianto Tidak Miliki Sehektare Pun
Kejar Target Lifting, ESDM Tawarkan 8 Blok Migas Baru Dengan Potensi Miliaran Barel
Dari Amazon Hingga Skotlandia, Miliarder Global Investasikan Lahan Hijau Bernilai Dolar AS 50 Miliar
Aparat Gabungan Tertibkan Tambang Ilegal di TN Kutai, 7 Ekskavator Diamankan
Bea Keluar Batu Bara Berlaku 1 Januari 2026, Tarif 1–5 Persen Bidik Tambahan Rp20 Triliun Penerimaan Negara
KPK Hentikan Kasus Tambang Nikel Konawe Utara, Dugaan Kerugian Negara Rp2,7 Triliun Kini Tanpa Kepastian