MINING 24 JAM - Apakah Irak benar-benar siap menghadapi ancaman gangguan ekspor minyak global akibat konflik Teluk?
Mampukah jalur alternatif seperti pipa Kirkuk–Ceyhan menjadi penyelamat ekonomi negara yang sangat bergantung pada energi?
Irak Aktifkan Jalur Alternatif Ekspor Minyak Hindari Risiko Selat Hormuz
Pemerintah Irak menyiapkan jalur ekspor minyak alternatif melalui pipa Kirkuk–Ceyhan untuk mengurangi risiko gangguan distribusi akibat ketegangan geopolitik kawasan Teluk.
Langkah ini dikonfirmasi Hayyan Abdul Ghani, Wakil Perdana Menteri Urusan Energi merangkap Menteri Perminyakan Irak, yang menyebut jalur tersebut disiapkan sebagai opsi darurat strategis.
Menurut Abdul Ghani, pipa tersebut ditargetkan kembali beroperasi dalam waktu satu minggu dengan kapasitas awal sekitar 200.000 hingga 250.000 barel per hari.
Penurunan Produksi Minyak Irak Dampak Penutupan Jalur Distribusi Strategis Global
Irak terpaksa memangkas produksi minyak dari kuota OPEC sebesar 4,4 juta barel per hari menjadi sekitar 1,5 hingga 1,6 juta barel.
Baca Juga: Ketegangan AS Iran Memanas, Washington Umumkan Imbalan 10 Juta Dolar AS Untuk Informasi Elite Iran
Hayyan Abdul Ghani menyatakan produksi yang tersisa difokuskan untuk kebutuhan kilang domestik serta pembangkit listrik demi menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Kebijakan ini menunjukkan prioritas pemerintah Irak menjaga ketahanan energi domestik dibanding memaksakan ekspor dalam situasi risiko logistik global.
Diversifikasi Ekspor Energi Irak Perkuat Stabilitas Fiskal dan Pendapatan Negara
Selain jalur Turki, Irak juga mempertimbangkan ekspor melalui pelabuhan Baniyas di Suriah serta jalur darat menuju Aqaba di Yordania.
Baca Juga: Trump Klaim Serangan Pulau Kharg Iran, Fasilitas Militer Dihantam, Minyak Sengaja Tidak Disasar AS
Strategi diversifikasi ini dinilai penting karena sekitar 90 persen pendapatan Irak masih bergantung pada ekspor minyak mentah sebagai tulang punggung fiskal negara.
Langkah ini juga menjadi respons terhadap potensi krisis energi global yang berisiko mengganggu jalur perdagangan minyak internasional melalui Selat Hormuz.