MINING 24 JAM - Bisakah ekonomi Indonesia 2026 melaju lebih cepat dengan mengandalkan hilirisasi dan konsumsi domestik?
Ataukah tekanan global dan tantangan fiskal justru menjadi rem bagi ambisi pertumbuhan jangka menengah nasional?
Tahun 2026 Disebut Menjadi Landasan Pacu Ekonomi Nasional
Pemerintah menilai 2026 sebagai fase krusial setelah konsolidasi kebijakan ekonomi pascapergantian pemerintahan nasional.
Baca Juga: Sidak Pasar Nataru: Mentan Amran Sulaiman Temukan Minyak Goreng Di Atas HET Rp18.000 Per Liter
Target pertumbuhan ekonomi dipatok pada kisaran 5,2 hingga 5,4 persen sebagai fondasi menuju sasaran lebih tinggi.
Perencanaan tersebut tercantum dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal terbaru.
Belanja Pemerintah dan Program Prioritas Dorong Aktivitas Lokal
Belanja pemerintah diarahkan pada program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memiliki efek pengganda ke daerah.
Baca Juga: Demutualisasi BEI Masuk Tahap Final, Ini 6 Perubahan Besar Tata Kelola Bursa Indonesia
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut program tersebut mendorong UMKM dan rantai pasok pangan lokal.
Realisasi belanja yang tepat waktu dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan awal tahun.
Ekonomi Digital dan Energi Terbarukan Mulai Menunjukkan Potensi
Sektor ekonomi digital diproyeksikan tumbuh pesat seiring penetrasi internet ke luar kota besar.
Baca Juga: KDM Tegaskan Jawa Barat Bukan Wilayah Sawit Skala Besar, Audit Lahan BUMN Jadi Sorotan
Fintech dan e-commerce dinilai memperluas inklusi keuangan dan mendukung konsumsi rumah tangga.
Sementara itu, proyek energi terbarukan mulai terealisasi seiring komitmen Net Zero Emission nasional.