NEWS SUMMARY:
- Pasar energi bereaksi cepat dengan kenaikan harga minyak sekitar 8 persen dalam beberapa waktu terakhir
- Selat Hormuz menjadi kunci stabilitas harga energi global dalam situasi geopolitik yang memanas
- Lonjakan harga minyak berisiko meningkatkan biaya hidup dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia
MINING 24 JAM - Mengapa Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia energi global?
Apakah konflik terbaru akan memicu gelombang kenaikan harga minyak yang lebih besar dari sebelumnya?
Peringatan Amerika Serikat Soal Lonjakan Harga Energi Global
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright memperingatkan bahwa harga minyak dunia berpotensi melonjak dalam waktu dekat.
Baca Juga: Masuk BRICS, Indonesia Perkuat Posisi Global dan Buka Peluang Kerja Sama Ekonomi dengan Rusia
Pernyataan itu disampaikan di Washington pada Senin (13/4/2026) dalam konferensi ekonomi global yang dihadiri pelaku industri energi.
Ia menilai gangguan distribusi melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga energi saat ini.
Gangguan Selat Hormuz Picu KetidakpastianSAZ Pasokan Minyak Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar global di Asia dan Eropa.
Sejak konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat pada akhir Februari, akses pelayaran di kawasan tersebut menjadi terganggu.
Kondisi ini menyebabkan pasar minyak bereaksi cepat dengan lonjakan harga yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Normalisasi Distribusi Energi Diprediksi Tidak Akan Terjadi Cepat
Wright menegaskan bahwa harga energi baru akan stabil setelah konflik berakhir dan arus distribusi kembali normal sepenuhnya.
Baca Juga: IMF Ungkap Dampak Asimetris Konflik Iran Harga Global Diprediksi Sulit Turun Dalam Waktu Lama
Namun, ia memperingatkan bahwa penurunan harga tidak akan terjadi secara instan meskipun kondisi mulai membaik.
“Presiden Donald Trump memahami bahwa gangguan jangka pendek akan mendorong harga naik,” kata Wright.