• Sabtu, 18 April 2026

Panic Buying BBM Ungkap Ketidakpastian Informasi Energi Picu Kepanikan Publik di Berbagai Daerah

Photo Author
Tim 24 Jam News, Mining 24 Jam
- Selasa, 10 Maret 2026 | 13:56 WIB
Ilustrasi antre BBM. Pengendara antre berjam-jam di SPBU setelah kabar mengenai pembatasan distribusi BBM viral melalui pesan berantai digital. (Dok. Kreasi Dola AI)
Ilustrasi antre BBM. Pengendara antre berjam-jam di SPBU setelah kabar mengenai pembatasan distribusi BBM viral melalui pesan berantai digital. (Dok. Kreasi Dola AI)

MINING 24 JAM - Mengapa antrean BBM bisa tiba-tiba mengular hingga kilometer padahal pemerintah menyebut stok masih aman?

Apakah panic buying benar-benar soal distribusi energi, atau refleksi ketidakpercayaan publik terhadap komunikasi kebijakan?

Fenomena panic buying bahan bakar minyak yang terjadi di berbagai daerah dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan karena menunjukkan dampak sosial dan ekonomi yang jauh melampaui persoalan distribusi energi.

Baca Juga: Kontroversi Tambang Emas Tumpang Pitu Picu Diskusi Publik Tentang Ekonomi Lokal dan Lingkungan

Kepanikan publik dipicu oleh ketidakpastian informasi mengenai kebijakan subsidi dan harga energi yang beredar di media sosial.

Sejumlah pemberitaan media nasional sebelumnya juga menunjukkan bahwa rumor kebijakan energi sering memicu lonjakan pembelian BBM, bahkan ketika stok nasional sebenarnya masih tersedia.

Antrean Panjang SPBU Menjadi Cerminan Krisis Kepercayaan Publik Terhadap Informasi

Antrean panjang di sejumlah SPBU menjadi indikator nyata bagaimana masyarakat merespons ketidakpastian informasi mengenai ketersediaan bahan bakar.

Baca Juga: Penggeledahan Kantor Sekuritas Mirae Asset, Manajemen Tegaskan Perlindungan Dana Investor Tetap Aman

Beberapa SPBU mengalami kekosongan stok dalam hitungan jam setelah rumor kelangkaan BBM beredar luas.

Kondisi tersebut memicu efek domino karena masyarakat lain ikut membeli BBM dalam jumlah lebih besar dari kebutuhan normal.

Panic buying merupakan respons psikologis yang muncul ketika publik merasa tidak memiliki kepastian mengenai masa depan pasokan energi.

Baca Juga: Indonesia Disebut Relatif Aman dari Krisis Global, Prabowo Tekankan Pentingnya Ketahanan Pangan Nasional

Dalam situasi seperti ini, persepsi publik sering kali lebih menentukan perilaku pasar dibanding kondisi stok yang sebenarnya.

Bahasa Teknokratis Kebijakan Energi Sulit Dipahami Oleh Publik Luas

Salah satu temuan penting dalam hal ini adalah penggunaan istilah teknokratis dalam komunikasi kebijakan energi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X