MINING 24 JAM - Apakah konflik Timur Tengah benar-benar akan membuat harga BBM di Indonesia naik dalam waktu dekat?
Mengapa lonjakan harga minyak global tiba-tiba menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi rumah tangga masyarakat Indonesia hari ini?
Lonjakan Harga Minyak Global Menguji Ketahanan Fiskal Indonesia Tahun Ini
Lonjakan harga minyak dunia pada awal Maret 2026 menjadi ujian serius bagi stabilitas fiskal Indonesia di tengah eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan harga Indonesian Crude Price (ICP) bergerak jauh di atas asumsi APBN 2026.
Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi ICP sebesar 70 Dolar AS per barel, sementara harga realisasi pasar telah melonjak ke kisaran 78–81,5 Dolar AS.
Kenaikan ini menciptakan tekanan fiskal karena Indonesia masih mengimpor sekitar satu juta barel minyak per hari meski memiliki produksi sekitar 600 ribu barel harian.
Menurut Bahlil Lahadalia, tambahan pendapatan ekspor energi tidak sepenuhnya mampu menutup lonjakan biaya impor energi nasional.
Ia menegaskan pemerintah sedang melakukan simulasi kebijakan untuk menjaga keseimbangan APBN tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.
Penutupan Selat Hormuz Memicu Gangguan Pasokan Energi Global Serius
Ketegangan meningkat setelah Iran menutup efektif Selat Hormuz menyusul serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Jumat, (28/02/2026).
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Menteri ESDM Pastikan Pasokan BBM Indonesia Aman Jelang Idul Fitri
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur distribusi hampir seperlima pasokan minyak dunia sehingga gangguan logistik langsung memicu kepanikan pasar energi.
Puluhan kapal tanker dilaporkan tertahan, meningkatkan premi risiko pelayaran dan menyebabkan lonjakan harga minyak internasional secara cepat.