MINING 24 JAM - Apakah optimisme baru pemerintah cukup kuat menjaga kepercayaan dunia usaha menghadapi ketidakpastian global?
Mampukah kepastian hukum, efisiensi birokrasi, dan ekspansi pasar internasional benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026?
Optimisme Dunia Usaha Menguat Setelah Arahan Presiden Prabowo
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menghadiri forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Gedung Danantara, Jakarta, yang menyoroti arah ekonomi nasional tahun mendatang.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,11 Persen 2025 Belum Cukup Kurangi Tekanan Pasar Tenaga Kerja
Dalam forum tersebut, ia menyebut arahan Presiden Prabowo Subianto memberi optimisme baru bagi dunia usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi.
Menurut Anindya, dunia usaha membutuhkan kejelasan arah kebijakan pemerintah agar pelaku industri dapat menyusun strategi ekspansi dan investasi secara lebih terukur pada 2026.
Anindya Bakrie menyatakan bahwa arahan presiden memberikan optimisme baru bagi dunia usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: 4 Menteri Dipanggil Ke Hambalang Bahas Perundingan Tarif Indonesia AS dan Dampaknya Bagi Industri
Ia menilai sinyal stabilitas kebijakan ekonomi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional.
Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kokoh dan Stabil
Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026, Anindya menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi kokoh dan stabil.
Ia mengapresiasi pernyataan pemerintah yang menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk yang tercepat di antara negara-negara G20 saat ini.
Baca Juga: Tambang Emas 2013-2026: 13 Tahun Konflik Lingkungan dan Investasi di Gunung Tumpang Pitu
Anindya menyebut stabilitas ekonomi makro, konsumsi domestik kuat, dan investasi yang terjaga menjadi faktor penting menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia juga menilai stabilitas nilai tukar, inflasi terkendali, dan sektor industri yang tetap bergerak menjadi indikator fundamental ekonomi tetap kuat.
Artikel Terkait
Bobot Saham di MSCI Dibahas 120 Menit Luhut Targetkan Arus Modal Global Masuk Bursa Efek Indonesia
Mentan Paparkan Strategi Swasembada Pangan dengan 500 Deregulasi dan Modernisasi Pertanian
Efisiensi Danantara Naik Empat Kali Lipat, Presiden Tetapkan Target ROA 7 Persen Bagi BUMN Nasional
Audit BPK 2025 Ungkap 21 Temuan di Korporasi Pupuk, Kerugian Negara Berpotensi Rp12,59 Triliun
Sanksi Denda dan Suspensi Sebanyak 38 Saham Picu Evaluasi Tata Kelola Korporasi Pasar Modal
3 Fakta IPB Tentang Deforestasi Yang Memicu Penyakit Nyamuk dan Krisis Kesehatan Lingkungan
Ekonomi Diprediksi Makin Kuat, Prabowo Sebut Data Konsumsi 4,98 Persen Bukti Kebangkitan Nasional
BULOG Optimistis Pasar Timur Tengah Serap Beras Premium Indonesia untuk Jemaah Haji Dunia
85 Persen Penerimaan Negara Dari Pajak, Fondasi Ketahanan Ekonomi Indonesia Ditekankan Dirjen Pajak 2026
Tumpang Pitu Diperebutkan: Antara Cadangan Emas Raksasa dan Ancaman Kerusakan Ekosistem Pesisir