MINING 24 JAM - Apakah tambang emas yang digadang membawa kemakmuran benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya?
Ataukah kilau emas justru menyisakan luka lingkungan dan sosial bagi warga yang hidup paling dekat dengan sumber daya itu?
Tambang Emas Tumpang Pitu Banyuwangi Menjanjikan Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Gunung Tumpang Pitu di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi salah satu lokasi tambang emas terbesar di Indonesia yang menarik perhatian publik dan investor.
Baca Juga: Penggeledahan Kantor Sekuritas Mirae Asset, Manajemen Tegaskan Perlindungan Dana Investor Tetap Aman
Gunung setinggi sekitar 489 meter tersebut kini berubah menjadi area pertambangan emas porfiri yang dikelola korporasi tambang setelah memperoleh berbagai perizinan dari pemerintah pusat dan daerah.
Sejak awal pengembangannya, proyek ini dipromosikan sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan investasi, lapangan kerja, serta kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sejumlah laporan mencatat bahwa potensi cadangan emas di kawasan Tumpang Pitu termasuk yang signifikan di Asia Tenggara sehingga menarik investasi pertambangan berskala besar.
Namun, di tengah optimisme investasi tersebut, muncul perdebatan mengenai dampak sosial dan lingkungan yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Perubahan Ekonomi Lokal Muncul Seiring Kehadiran Industri Pertambangan Besar
Masuknya industri tambang membawa perubahan ekonomi yang cukup cepat di wilayah pesisir selatan Banyuwangi, khususnya di Kecamatan Pesanggaran.
Sebagian warga memperoleh peluang kerja baru dalam sektor tambang maupun sektor pendukung seperti transportasi, logistik, dan jasa lainnya.
Baca Juga: Ketersediaan Pangan Nasional Dipastikan Aman, Produksi Beras Indonesia Lampaui Konsumsi Masyarakat
Namun sejumlah warga menilai kesempatan kerja yang tersedia masih didominasi posisi non-teknis atau kontrak jangka pendek.
Seorang tokoh masyarakat Pesanggaran yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa sebagian warga merasa belum sepenuhnya menikmati manfaat ekonomi tambang.