MINING 24 JAM - Apakah mahkota kerajaan legendaris Sunda dibentuk hanya sebagai simbol kekuasaan, atau sebenarnya menyimpan peta kekayaan bumi Nusantara?
Dari mana emas Mahkota Binokasih berasal, dan bagaimana logam mulia itu merekam pergeseran politik terbesar tanah Sunda?
Mahkota Binokasih Menyimpan Jejak Geologi Kekuasaan Tatar Sunda Kuno
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake bukan sekadar artefak kerajaan, tetapi simbol legitimasi kekuasaan Sunda yang kini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang.
Baca Juga: Analis Ungkap Risiko Ketergantungan Energi, Krisis Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Artefak berusia lebih dari enam abad itu diyakini dibuat pada masa Prabu Bunisora Suradipati sekitar abad ke-14 sebagai hadiah politik kepada Sri Baduga Maharaja.
Sejumlah peneliti sejarah menilai mahkota tersebut menjadi bukti kesinambungan kekuasaan dari Pajajaran menuju Sumedang Larang setelah runtuhnya pusat kerajaan di Pakuan.
Sejarawan Universitas Padjadjaran, Dr. Nina Herlina Lubis, Guru Besar Ilmu Sejarah, menyatakan mahkota bukan hanya benda pusaka melainkan simbol transisi politik Sunda.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Ungkap Defisit APBN Februari 2026 Dan Optimisme Penerimaan Pajak
Menurutnya, pemberian mahkota kepada Prabu Geusan Ulun tahun 1578 menandai legitimasi kekuasaan baru tanpa memutus identitas Pajajaran.
Asal Usul Emas Diduga fari Tambang Tradisional Jampang dan Banten
Investigasi historis menunjukkan emas Mahkota Binokasih kemungkinan berasal dari wilayah Jampang Sukabumi atau Lebak Sembada yang kini dikenal sebagai Cikotok, Banten.
Catatan kolonial Belanda menyebut kawasan selatan Jawa Barat sebagai salah satu produsen emas tertua Nusantara jauh sebelum industrialisasi tambang modern.
Metode pengambilan emas dilakukan melalui teknik alluvial atau ndulang di aliran sungai vulkanik yang membawa partikel emas dari pegunungan.
Karakter emas aluvial Sunda cocok untuk kriya logam karena lunak namun stabil saat ditempa.