• Sabtu, 18 April 2026

Jejak Emas Mahkota Binokasih, Investigasi Asal Usul Logam Kerajaan Sunda Ungkap Fakta Sejarah

Photo Author
Tim 24 Jam News, Mining 24 Jam
- Sabtu, 7 Maret 2026 | 09:48 WIB
Ilustrasi mahkota Binokasih.Mahkota Binokasih Sanghyang Pake tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang sebagai simbol legitimasi kekuasaan Sunda sejak era Pajajaran hingga Sumedang Larang. (Dok. Kreasi Dola AI)
Ilustrasi mahkota Binokasih.Mahkota Binokasih Sanghyang Pake tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang sebagai simbol legitimasi kekuasaan Sunda sejak era Pajajaran hingga Sumedang Larang. (Dok. Kreasi Dola AI)

Teknologi metalurgi lokal saat itu menunjukkan tingkat kemajuan tinggi yang sering luput dari narasi sejarah populer.

Baca Juga: Kasus Izin Tambang Emas Tumpang Pitu Diselidiki KPK, Publik Masih Menunggu Hasil Pendalaman Fakta

Teknologi Empu Galuh Membuktikan Keunggulan Metalurgi Nusantara Awal

Empu logam kerajaan Galuh memurnikan emas melalui pembakaran bertahap untuk memisahkan unsur tembaga dan perak tanpa teknologi industri modern.

Teknik tersebut menghasilkan emas 24 karat yang memungkinkan pembentukan mahkota tipis dengan motif daun dan praba lingkar sinar yang khas.

Penggunaan emas lokal mencerminkan konsep “emas bumi” dalam kosmologi Sunda kuno.

Baca Juga: Danantara Lakukan Audit Manajemen BUMN untuk Tingkatkan Efisiensi Bisnis dan Kontribusi Dividen

Dalam filosofi tersebut, emas melambangkan kesatuan bumi dan kekuasaan raja sebagai penjaga keseimbangan alam serta masyarakat.

Konsep itu menjelaskan mengapa mahkota bukan sekadar ornamen melainkan simbol spiritual sekaligus geopolitik kerajaan.

Relevansi Modern Antara Warisan Budaya dan Pengelolaan Sumber Daya Alam

Perbincangan mengenai asal emas Binokasih kembali relevan ketika isu pengelolaan sumber daya alam dan hilirisasi mineral menjadi agenda ekonomi nasional.

Baca Juga: Gus Miftah Nilai Program MBG Bagus untuk Rakyat, Namun Pengelolaannya Harus Lebih Profesional

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan Indonesia memiliki cadangan emas sekitar 2.600 ton yang tersebar di berbagai wilayah pertambangan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara ESDM, Tri Winarno, melalui laman resmi kementerian menyatakan penguatan nilai tambah mineral menjadi prioritas pembangunan industri nasional.

Ia menegaskan pengelolaan sumber daya harus memperhatikan nilai sejarah, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang.

Baca Juga: Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Energi Nasional, Cadangan BBM Aman untuk 20 Hari Saja

Sejumlah media arus utama juga menyoroti pentingnya pengelolaan emas nasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X