energi

Konflik Iran Vs Israel dan AS Ancam Stabilitas Ekonomi Indonesia, Pemerintah Siapkan Antisipasi Strategi Fiskal

Minggu, 15 Maret 2026 | 22:45 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Airlangga Hartarto menjelaskan proyeksi harga minyak dunia dan dampaknya terhadap ekonomi Indonesia di tengah konflik geopolitik global. (Dok. Instagram @airlanggahartarto)

MINING 24 JAM - Apakah perang di Timur Tengah bisa langsung menggerus stabilitas keuangan Indonesia melalui lonjakan harga energi global?

Seberapa kuat APBN Indonesia menahan tekanan jika konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat berkepanjangan hingga hampir setahun?

Dampak Perang Global Terhadap Stabilitas Fiskal dan Defisit APBN Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan skenario dampak perang Asia Barat terhadap defisit APBN dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara Jakarta Jumat (14/03/2026).

Baca Juga: Arahan Prabowo ke Kabinet, Hindari Open House Berlebihan Demi Jaga Kepercayaan Publik dan Ekonomi Nasional

Airlangga Hartarto menyatakan defisit APBN berpotensi menembus 4,06 persen jika harga minyak dunia mencapai 115 Dolar AS per barel.

Ia menjelaskan pemerintah menghadapi dilema menjaga defisit tiga persen tanpa memangkas belanja atau menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini dijaga di atas lima persen.

Skenario Harga Minyak Dunia dan Tekanan Kurs Rupiah Nasional

Airlangga memaparkan tiga simulasi berdasarkan durasi konflik yang mempengaruhi harga minyak mentah, nilai tukar rupiah, imbal hasil SBN, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Baca Juga: DMO Batu Bara Jadi Instrumen Jaga Stabilitas Energi Nasional dan Kendalikan Ekspor Komoditas Strategis

Dalam skenario moderat pertama, ICP diperkirakan 86 Dolar AS per barel dengan kurs Rp17.000 dan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen menghasilkan defisit sekitar 3,18 persen.

Skenario kedua memperkirakan ICP 97 Dolar AS per barel, kurs Rp17.300, pertumbuhan 5,2 persen, serta yield SBN 7,2 persen sehingga defisit meningkat menjadi 3,53 persen.

Strategi Pemerintah Menjaga Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Risiko Global

Airlangga menegaskan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap menjadi prioritas pemerintah meskipun tekanan eksternal meningkat akibat konflik geopolitik dan volatilitas harga komoditas global.

Baca Juga: Kinerja Danantara Jadi Sorotan, Pemerintah Optimistis Investasi Korporasi Negara Mulai Tunjukkan Hasil

“Defisit yang tiga persen sulit kita pertahankan kecuali kita memotong belanja dan pertumbuhan,” kata Airlangga saat melaporkan kondisi fiskal kepada Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan tersebut menunjukkan pemerintah masih mengedepankan keseimbangan antara disiplin fiskal dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi dalam menghadapi ketidakpastian global.

Halaman:

Tags

Terkini