• Sabtu, 18 April 2026

Kapan Harga BBM Naik Lagi Ini Analisis Tekanan Minyak Dunia Rupiah Dan Subsidi Energi Nasional

Photo Author
Tim 24 Jam News, Mining 24 Jam
- Senin, 6 April 2026 | 20:00 WIB
Aktivitas pengisian BBM kendaraan di SPBU mencerminkan kebijakan pembatasan konsumsi energi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga BBM Indonesia tahun 2026 di tengah tekanan harga minyak dunia. (Dok. pertaminaretail.com)
Aktivitas pengisian BBM kendaraan di SPBU mencerminkan kebijakan pembatasan konsumsi energi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga BBM Indonesia tahun 2026 di tengah tekanan harga minyak dunia. (Dok. pertaminaretail.com)

MINING 24 JAM - Akankah pembatasan BBM 50 liter benar-benar menyelamatkan dompet masyarakat dari kenaikan harga mendadak tahun ini?

Mengapa pemerintah memilih menahan harga tetapi justru membatasi konsumsi energi publik secara diam-diam?

Strategi Pemerintah Menahan Harga BBM di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Dikutip dari media Indonesiaraya.co.id, Memasuki kuartal kedua tahun 2026, pemerintah memilih mempertahankan harga BBM sambil mengendalikan konsumsi melalui pembatasan pembelian berbasis aplikasi MyPertamina sejak Selasa (01/04/2026).

Baca Juga: Indonesia Bereaksi Keras Atas Serangan UNIFIL, Desak Transparansi Investigasi dan Jaminan Keselamatan Prajurit

Kebijakan ini membatasi pembelian Pertalite dan Solar maksimal 50 liter per hari untuk kendaraan pribadi, sementara angkutan umum memperoleh kuota 80 hingga 200 liter.

Kebijakan pembatasan volume merupakan strategi fiskal untuk menahan inflasi tanpa memicu gejolak harga langsung.

Lonjakan Harga Minyak Dunia Jadi Ancaman Stabilitas Subsidi Energi Nasional

Tekanan terbesar berasal dari harga minyak global yang berada pada kisaran 90 hingga 100 Dolar AS per barel akibat ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Pulau Kharg dari 'Mutiara Yatim Teluk Persia' Menjadi Simbol Strategi Energi Iran Kontemporer Global

Padahal asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 ditetapkan sekitar 70 Dolar AS per barel sehingga selisih harga berpotensi memperbesar beban subsidi energi nasional.

Kenaikan harga minyak yang bertahan satu kuartal dapat memaksa penyesuaian kebijakan energi domestik secara bertahap.

Pelemahan Rupiah dan Risiko Defisit Fiskal Jadi Faktor Penentu

Nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.000 per Dolar AS menambah tekanan biaya impor energi karena sebagian kebutuhan BBM nasional masih bergantung pasokan luar negeri.

Baca Juga: Langkah Tegas Pemerintah Awasi Medsos Demi Keamanan Anak dari Risiko Konten Digital Berbahaya

Kondisi tersebut meningkatkan biaya pokok penyediaan BBM korporasi energi nasional sehingga ruang fiskal pemerintah semakin terbatas dalam mempertahankan subsidi.

Defisit berpotensi melebar hingga 3,5 persen PDB jika harga tidak disesuaikan hingga akhir 2026.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X