MINING 24 JAM - Apakah konflik militer Amerika Serikat dan Israel melawan Iran bisa menjadi pemicu krisis energi baru di dunia?
Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu, bagaimana strategi Indonesia melindungi ekonomi nasional dari lonjakan harga minyak?
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar energi global karena potensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dapat memengaruhi jalur distribusi minyak dunia.
Baca Juga: Mirae Asset Angkat Bicara Soal Angka Rp14,5 Triliun Setelah Penggeledahan Penyidik OJK dan Bareskrim
Perhatian utama tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi internasional.
Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut sehingga potensi penutupan jalur itu berisiko memicu lonjakan harga energi secara cepat.
Ekonom Indef Dr Hakam Naja menilai Indonesia perlu menyiapkan langkah ekonomi strategis untuk menghadapi kemungkinan tersebut.
Ketegangan Timur Tengah dan Risiko Gangguan Distribusi Energi Dunia
Konflik di Timur Tengah sejak lama dikenal sebagai faktor yang memengaruhi volatilitas harga energi global.
Gangguan terhadap jalur distribusi seperti Selat Hormuz dapat mempercepat lonjakan harga minyak dalam waktu singkat.
Dr Hakam Naja mengatakan harga minyak dunia saat ini telah mencapai sekitar Dolar AS 92 per barel, level tertinggi sejak tahun 2020.
Baca Juga: Pemerintah Antisipasi Kekeringan Dengan Pompanisasi Lahan Demi Menjaga Produksi Beras Nasional
Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal awal bahwa risiko geopolitik mulai memengaruhi pasar energi internasional.
Dampak Lonjakan Harga Minyak Terhadap Defisit Anggaran Negara Indonesia
Kenaikan harga minyak memiliki konsekuensi langsung terhadap stabilitas fiskal Indonesia.