ekonomi

Rupiah Melemah Saat Global Risk On, Analis Sebut Ini Sinyal Tekanan Struktural Ekonomi Indonesia

Senin, 13 April 2026 | 23:20 WIB
Investor menunggu arah baru IHSG di tengah ketidakpastian ekonomi global (Dok. koka.co.id)

NEWS SUMMARY:

  • IHSG ditutup di 7.307,59 dengan penguatan terbatas meski sentimen global membaik
  • Rupiah melemah menembus Rp17.000 per Dolar AS, jadi indikator utama persepsi risiko investor
  • Indikasi awal capital outflow dan tekanan struktural pasar emerging markets mulai terlihat

MINING 24 JAM - Mengapa pasar saham Indonesia tidak ikut melonjak saat sentimen global membaik?

Apakah ini tanda awal tekanan ekonomi yang lebih dalam bagi investor dan pelaku pasar domestik?

Reli Global Tidak Sepenuhnya Menular ke Pasar Domestik Indonesia

Pasar global menunjukkan penguatan sepanjang pekan kedua April 2026 seiring meredanya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Harga Energi Global Naik, DPR Nilai Subsidi BBM Masih Penting Jaga Ekonomi Dan Daya Beli

Namun, IHSG hanya mencatat kenaikan terbatas ke level 7.307,59, menunjukkan respons domestik yang tidak sejalan dengan tren global.

Kusfiardi menilai kondisi ini mencerminkan perbedaan persepsi risiko antara investor global terhadap pasar maju dan berkembang.

“Meskipun global risk-on, pasar domestik belum sepenuhnya ikut karena tekanan likuiditas masih kuat,” ujarnya.

Baca Juga: Ma’ruf Amin Ungkap Penyebab Gagalnya Diplomasi Amerika Serikat Iran dan Dampaknya Bagi Indonesia

Fenomena ini memperlihatkan bahwa pemulihan global belum otomatis berdampak positif bagi Indonesia.

Arus Modal Keluar dan Penguatan Dolar AS Jadi Faktor Dominan

Rupiah yang melemah hingga Rp17.090 per Dolar AS menjadi indikator kuat adanya tekanan arus modal keluar.

Kusfiardi menegaskan bahwa penguatan Dolar AS dan tingginya yield global menjadi magnet bagi investor untuk keluar dari emerging markets.

Baca Juga: Rokok Ilegal Diberi Kesempatan Masuk Pasar Legal, Targetkan Dampak Signifikan Penerimaan Negara

“Likuiditas global tersedot ke aset berbasis dolar sehingga pasar domestik kehilangan momentum,” jelasnya.

Kondisi ini membuat ruang kenaikan IHSG menjadi terbatas meskipun sentimen global terlihat membaik.

Halaman:

Tags

Terkini